
Josh Shear – Perdebatan tentang bagaimana algoritma streaming membentuk selera publik menguat seiring dominasi platform digital, memunculkan pertanyaan apakah pengguna masih benar-benar memilih sendiri tontonan dan musik mereka.
Banyak pengguna mengabaikan cara kerja sistem rekomendasi, padahal algoritma streaming membentuk selera melalui pengumpulan dan pengolahan data perilaku. Setiap klik, durasi menonton, lagu yang dilewati, hingga tontonan yang diulang berulang kali menjadi sinyal penting.
Platform kemudian memanfaatkan sinyal tersebut untuk memetakan preferensi individu. Di sisi lain, data jutaan pengguna lain dipakai untuk menemukan pola serupa dan mengelompokkan selera ke dalam kategori yang mudah diprediksi. Akibatnya, rekomendasi terasa personal, meski sebenarnya hasil perhitungan statistik skala besar.
Selain itu, algoritma tidak hanya membaca apa yang disukai, tetapi juga kapan dan bagaimana konten dikonsumsi. Misalnya, tontonan ringan lebih sering direkomendasikan pada malam hari, sementara konten yang lebih serius muncul di jam produktif. Pola waktu ini ikut mempersempit jenis tayangan yang muncul di beranda pengguna.
Banyak pakar budaya digital menilai algoritma tidak hanya memetakan, tetapi juga mengarahkan preferensi. Saat rekomendasi yang sama muncul berulang, peluang kita mencoba pilihan di luar pola semakin kecil. Dengan demikian, algoritma streaming membentuk selera secara perlahan, namun konsisten.
Rekomendasi yang tampak netral sebenarnya membawa kepentingan bisnis. Konten yang dianggap berpotensi menarik banyak penonton cenderung didorong lebih kuat. Karena itu, serial, film, atau musik dengan potensi viral sering memperoleh ruang tampilan utama, menggeser karya yang lebih nis nis namun berkualitas.
Di sisi lain, pengguna kerap mengalami “gelembung selera”, yaitu situasi ketika beranda hanya berisi jenis konten yang sama. Meski begitu, gelembung ini jarang disadari, karena pengguna merasakan kenyamanan dan merasa pilihannya sepenuhnya alami.
Antarmuka platform dirancang agar pengguna merasa mengendalikan pengalaman menonton. Tombol “putar berikutnya”, daftar rekomendasi, dan label “untuk Anda” menghadirkan ilusi kebebasan, meski di baliknya algoritma streaming membentuk selera lewat urutan dan penonjolan konten.
Posisi sebuah konten di layar sangat menentukan. Penelitian perilaku menunjukkan mayoritas orang memilih dari deretan teratas. Karena itu, konten yang muncul di baris pertama dan kedua memiliki peluang jauh lebih besar untuk diklik dibandingkan yang tersembunyi di bagian bawah atau dalam menu pencarian.
Namun, bukan berarti pengguna tidak punya kuasa sama sekali. Mengabaikan rekomendasi, aktif mencari judul, atau sengaja menjelajah kategori lain dapat mengirim sinyal berbeda pada sistem. Meskipun begitu, banyak orang merasa lelah jika harus terus mengatur, sehingga akhirnya mengikuti arus rekomendasi otomatis.
Dari sisi budaya, kekuatan algoritma streaming membentuk selera dapat menciptakan keseragaman konsumsi. Serial dan lagu yang sama mendominasi percakapan publik lintas negara, sementara karya lokal yang lebih berani bereksperimen kesulitan menembus arus utama.
Fenomena ini membuat standar “bagus” sering diukur dari seberapa sering suatu konten muncul di beranda atau trending. Selain itu, kreator konten kerap menyesuaikan karya mereka dengan pola yang dianggap disukai algoritma, misalnya durasi tertentu, ritme cerita yang cepat, atau gaya visual yang mudah menarik perhatian dalam beberapa detik pertama.
Baca Juga: studi ilmiah tentang pengaruh algoritma rekomendasi pada perilaku pengguna
Sementara itu, penonton yang memulai dari rekomendasi umum cenderung terus bergerak dalam jalur yang sama. Pada akhirnya, selera kolektif tampak mengerucut pada beberapa genre, tema, dan wajah yang sama, meski potensi variasi sebenarnya sangat luas.
Meski algoritma streaming membentuk selera secara kuat, pengguna masih memiliki ruang untuk menggeser pola tersebut. Langkah sederhana seperti lebih sering memakai fitur pencarian, mematikan putar otomatis, atau mengikuti kurasi independen bisa memperkaya referensi.
Kurasi dari komunitas film, media musik alternatif, atau kritikus independen membantu membuka pintu ke karya yang tidak selalu mendapatkan dorongan algoritma. Karena itu, menggabungkan rekomendasi otomatis dengan referensi manusia menjadi strategi realistis untuk menjaga keragaman selera.
Di tingkat regulasi, beberapa negara mulai membahas transparansi algoritma, termasuk kewajiban menjelaskan kriteria rekomendasi. Meski proses ini masih panjang, diskusi publik tentang peran algoritma penting untuk mencegah monopoli selera oleh segelintir platform besar.
Pada akhirnya, menyadari bagaimana algoritma streaming membentuk selera menjadi langkah awal untuk mengambil kembali sebagian kendali. Pengguna yang paham mekanisme rekomendasi lebih mungkin bersikap kritis dan berani keluar dari pola tontonan yang sempit.
Kita mungkin tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh perhitungan mesin, namun masih bisa mengarahkan ulang preferensi dengan pilihan sadar. Dengan cara itu, kita tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadikan platform sebagai alat, bukan penentu tunggal selera pribadi.
Mempertanyakan sejauh mana algoritma streaming membentuk selera berarti juga mempertanyakan peran diri sendiri dalam memilih. Selama kita bersedia sedikit lebih aktif, kemungkinan untuk tetap memilih sendiri tetap terbuka, bahkan di tengah dominasi rekomendasi otomatis.
This website uses cookies.