
Josh Shear – Teenagers and parents now face the challenge of growing up online safely just as technology, culture, and global news shift faster than any previous generation has experienced.
Generasi muda menghabiskan sebagian besar hidup mereka tersambung ke internet, dari sekolah hingga hiburan. Tantangan utama bukan hanya memahami teknologi, tetapi juga menjaga keseimbangan emosi, identitas, dan relasi sosial. Dalam situasi ini, keluarga perlu menyusun strategi agar anak bisa tumbuh mandiri sekaligus terlindungi di ruang digital.
Perubahan algoritma media sosial, tren viral, dan berita dunia yang mengalir terus-menerus dapat memengaruhi cara remaja melihat diri mereka. Karena itu, orang dewasa perlu hadir sebagai pendamping yang aktif, bukan pengawas yang hanya memberi larangan. Keterbukaan dialog menjadi dasar untuk mengurangi risiko, termasuk perundungan, kecemasan, dan paparan informasi menyesatkan.
Platform digital mendorong anak dan remaja untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan diri, terutama ketika mereka merasa hidupnya kurang menarik dibandingkan konten yang tampak sempurna. Di sisi lain, komunitas daring bisa memberi dukungan emosional jika digunakan dengan bijak.
Orang tua dan pendidik perlu peka terhadap tanda-tanda kelelahan digital, seperti sulit tidur, mudah tersinggung, atau tiba-tiba menarik diri dari aktivitas yang dulu disukai. Meski begitu, tidak semua waktu layar berdampak negatif. Percakapan video dengan keluarga jauh, belajar daring, dan hobi kreatif dapat membantu perkembangan sosial dan kognitif.
Kemampuan memahami informasi di internet menjadi keterampilan dasar yang tak kalah penting dari membaca dan menulis. Literasi digital membantu generasi muda menilai akurasi berita, mengenali misinformasi, dan memahami konsekuensi berbagi data pribadi. Dengan begitu, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat tanpa mudah terpengaruh manipulasi.
Sekolah berperan penting dalam mengajarkan cara memeriksa sumber, membedakan opini dan fakta, serta menghargai hak cipta. Namun, percakapan di rumah juga krusial. Diskusi santai tentang berita yang sedang tren, konten favorit, atau influencer yang diikuti dapat menjadi pintu masuk untuk membahas nilai, etika, dan tanggung jawab daring.
Baca Juga: Panduan UNICEF tentang dampak digital pada perkembangan remaja
Setiap unggahan, komentar, atau foto yang dibagikan akan membentuk jejak digital seseorang. Hal ini dapat memengaruhi kesempatan masa depan, termasuk penerimaan kerja atau beasiswa. Karena itu, membicarakan tentang pengaturan privasi dan batasan berbagi informasi menjadi bagian penting dari growing up online safely di era sekarang.
Remaja perlu memahami bahwa informasi seperti alamat rumah, jadwal harian, dan data sekolah tidak seharusnya dibagikan sembarangan. Selain itu, penting untuk menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan otentikasi dua faktor, dan berhati-hati terhadap tautan mencurigakan. Kebiasaan kecil ini dapat mencegah pencurian identitas dan penyalahgunaan akun.
Internet mempertemukan anak dengan budaya, bahasa, dan pandangan dunia yang sangat beragam. Hal ini membuka peluang pembelajaran yang luas, namun juga dapat menimbulkan kebingungan identitas. On the other hand, paparan beragam perspektif bisa membentuk sikap lebih toleran dan kritis terhadap isu-isu sosial.
Keluarga dapat membantu dengan membahas perbedaan budaya secara terbuka, tanpa menghakimi. Ketika ada berita besar di dunia, ajak anak untuk mendiskusikan sumber informasi dan dampaknya. Dengan begitu, mereka belajar bahwa growing up online safely juga berarti memahami konteks global dan tidak mudah terjebak narasi sempit.
Alih-alih mengawasi secara kaku, orang tua dapat menjadi mitra belajar di dunia digital. Salah satu pendekatan efektif adalah menyusun kesepakatan keluarga tentang penggunaan gawai, termasuk waktu layar, jenis aplikasi, dan konsekuensi pelanggaran. Kesepakatan yang disusun bersama akan terasa lebih adil dan mudah dipatuhi.
Selain itu, orang tua perlu memberi contoh dalam mengelola penggunaan teknologi. Anak akan meniru kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang dewasa menunjukkan disiplin dalam mengatur waktu online, mereka secara tidak langsung mengajarkan growing up online safely melalui tindakan nyata, bukan hanya nasihat.
Generasi yang bertumbuh dengan teknologi memiliki peluang besar untuk berinovasi, berkolaborasi lintas negara, dan menciptakan solusi baru untuk tantangan global. Namun, mereka membutuhkan fondasi kuat berupa literasi digital, keseimbangan emosi, dan dukungan keluarga. Dengan kombinasi ini, growing up online safely bukan lagi sekadar upaya bertahan, tetapi jalan menuju perkembangan optimal.
Ketika dunia terus berubah, keterampilan beradaptasi menjadi kunci. Remaja yang mampu mengelola identitas digital, menjaga kesehatan mental, dan menyaring informasi akan lebih siap menghadapi masa depan. Dengan pendampingan yang konsisten, mereka dapat growing up online safely dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan diri sendiri maupun masyarakat.
This website uses cookies.